Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2019

First Aid Indonesian Ultralight Hiking

Siapa sih yang ingin ada accident atau kecelakaan saat kita berkegiatan hiking? Hih amit- amit jangan sampai ada yang kena deh!

Untuk berjaga- jaga alangkah baiknya mempersiapkan First Aid sebelum pendakian ya?


Kebutuhan First Aid Kit wajib dan harus di bawa secara pribadi, meskipun kita hiking dengan kelompok.





First Aid disini saya sesuaikan dengan untuk pendakian Ultralight. Yang pasti dari alat hingga obat pun ada sedikit perubahan dalam jumlah beratnya.

Pengertian alat di sini adalah benda yang di pakai untuk mengerjakan sesuatu dan obat adalah bahan untuk mengurangi atau menyembuhkan.


ALAT FIRST AID KIT :

1. Pisau lipat.

Dimana pisau ini memiliki banyak fungsi.

Yang paling saya sukai yaitu Victorynox Classic SD. Ada mata pisau, gunting, kikir kuku, tusuk gigi dan pinset.






2. Cairan infus ( nacl).


Digunakan untuk membersihkan luka agar tidak perih.

Untuk memudahkan pemakaian saya wadahkan dengan botol spray plastik.



3. Alkohol swab.


Berfungsi untuk membersihkan peralatan yang terbuat dari metal.

Saya tidak menggunakan alkohol untuk membersihkan luka karena akan menimbulkan sensasi rasa perih. 





4. Sarung tangan steril.

Berguna untuk melindungi diri dari bakteri sebelum menangani luka pada korban.



5. Kasa steril.


Berguna untuk membersihkan luka maupun digunakan sebagai penutup luka.



6. Plester Hypafik


Menurut saya plester ini lebih ringan daripada hansaplast/ plester warna cokelat.

Fungsi dari plester ini di gunakan untuk merekatkan kasa steril.





7. Daryant- Tulle kasa pembalut steril khusus. 

Fungsi dari kasa pembalut steril ini untuk memulihkan luka bakar, infeksi sekunder pada kulit dengan adanya tambahan antibiotik pada kasa ini.



8. Thermal Blanket

Berfungsi sebagai selimut darurat yang digunakan untuk menginsulasi panas tubuh agar penderita hipotermia mampu stabil lagi kondisinya.





9. Perban Elastis.

Mengurangi rasa sakit saat terjadi kesleo serta mampu menjadi lapisan tersier yang berfungsi agar menahan lapisan perban lain agar tidak bergerak.

Saya pribadi memilih perban elastis merk tensocrepe dan memiliki ukuran 10cm x 4.5m di karenakan luas penampang yang lebar 




OBAT FIRST AID KIT

1. Obat Diare.


Digunakan untuk mengurangi frekuensi buang air besar akibat keracunan makanan, virus atau kekurangan elekrolit di tubuh dan perut mulas saat terjadi diare.

Berbagai merk dagang obat diare diantaranya diatabs, diapet, imodium dan norit. 


Kalau saya pribadi lebih suka norit karena di samping mengobati diare, norit juga mampu mengurang gas dalam lambung dan keracunan.



2. Asam Mefenamat.

Berguna untuk meredakan rasa sakit kepala, sakit gigi, sakit pada otot, nyeri yang menganggu dan mampu meredakan peradangan.





3. Oralit

Obat yang di gunakan untuk mengatasi kondisi kekurangan elektrolit  dan mineral di dalam tubuh akibat dehidrasi yang terjadi akibat diare, muntah kronis, hingga aktivitas fisik yang berlebihan.



4. Thrombophob gel.

Obat oles yang berbentuk gel bening yang mampu memberikan efek pereda nyeri, mengencerkan darah dan sebagai antiinflamasi, gel ini juga langsung bekerja dengan sangat cepat masuk ke jaringan kulit.
Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa diatasi oleh obat ini, yaitu ;
  • Penyumbatan pembuluh darah di daerah permukaan kulit.
  • Cedera yang menyebabkan pembekuan darah. Contoh ; memar dan kesleo.
  • Wasir atau hemoroid eksternal.
  • Mengatasi gejala varises.
  • Mencegah terbentukanya keloid pada bekas luka.      


5. Antibiotik. 

Berfungsi untuk menekan perkembangan bakteri atau mikroorganisme di dalam tubuh.

Biasanya saya membawa antibiotik untuk 6 (butir ) yang digunakan untuk 3 hari. Antibiotik ini biasanya saya gabung ketika saya terserang flu dan antibiotik ini harus di habiskan.



6. Ambroxol.

Digunakan untuk mengatasi gangguan pernafasan akibat produksi dahak berlebihan biasanya akibat bronkiektasis dan emisiema. Kalau musim kemarau saya kadang terkena gejala infeksi pernafasan akut (ispa)




Demikian beberapa FIRST AID yang saya bawa kegunung, apabila teman- teman juga bisa menambahkan item yang lainnya atau yang lebih di butuhkan. 

Tetap utamakan keselamatan saat pendakian dan jangan pernah meninggalakan rombongan.


S A L A M  L E S T A R I . . .

Kamis, 22 Agustus 2019

Pengelolaan Limbah Pendaki

Pendaki tentu tidak luput dari limbah, tanpa pengelolaan atau menejemen yang kurang baik akan berdampak buruk pada suatu lingkungan.

Ada beberapa pengelola gunung, komunitas gunung dan kesadaran segelintir pendaki yang menjadi andil sebagai 'pahlawan', untuk membawa hingga membersihkan sampah yang ada di gunung.

Artikel saya akan membahas sedikit peralatan outdoor yang mampu mengurangi limbah mulai dari diri- sendiri.

1. Trowel/ Sekop.

Sekop peralatan outdoor yang harus kita bawa dalam mendaki gunung. Fungsi sekop ini yaitu ; untuk menimbun sisa makanan yang organik. Contoh ; nasi dan sisa sayuran saat selesai memasak.

Selain itu sekop juga digunakan untuk menimbun limbah dari pendaki baik air besar (poop/ tai) atau air kencing saat di gunung.

Aksi menimbun ini harus di lakukan agar limbah yang kita hasikan tidak mengotori dan menjadi dampak buruk bagi lingkungan sekitar.


Sumber gambar : https://m.facebook.com/groups/1440458456241542?view=permalink&id=2068783443409037

Ada pendaki yang menggunaan pisaunya untuk menggali tanah, akan tetapi jika hanya membawa satu pisau saja dan di gunakan untuk mengggali lobang, kita tidak pernah tau tanah mana yang sudah terjamah atau belum terjamah bukan?

Jadi jijik ketika menggali menggunakan pisau dan ternyata di dalam tanah, pisau kita terkena jackpot tokai? Masa iya pisau mau digunakan untuk mengiris bahan makanan meskipun sudah di bersihkan?

Dengan membawa sekop ini bisa menjadi alternatifnya.



2. Asbak

Saya sering menjumpai minoritas pendaki perokok aktif di jalur, saya sangat kagum dengan mereka membuat asbak ataupun wadah untuk menyimpan puntung rokoknya selama pendakian di gunung.

Banyak dari mereka menggunakan barang bekas dari botol kaca minuman bervitamin hingga kaleng bekas rokok.


Foto : Asbak portable bahan dari botol kaca.



Foto : Asbak portable dari bahan kaleng rokok.


3. Water Bladder/ Tumbler Botol/ Soft Botol ( Reusable).

Hal yang sepele tapi sering di abaikan, yaitu botol AMDK (Air Minum Dalam Kemasan ) atau botol yang bahan utamanya terbuat dari plastik ini juga termasuk limbah atau sampah yang sering kita jumpai di gunung.

Saya sering menjumpai pendaki dengan santainya menjadikan botol AMDK ini sebagai wadah minum dan diisi air panas. Padahal di bagian bawah botol plastik seperti ini biasanya dijumpai simbol PET ( Polythlene terepthalate ).

Kemasan dengan simbol PET hanya boleh digunakan untuk sekali pakai. Jika diisi ulang apalagi dipakai air panas bisa mengeluarkan zat karsinogenik yang mampu memicu penyakit kanker.


Foto : Botol AMDK sekali pakai dengan simbol PET.
Source : google.com


Botol AMDK tentu sangat lebih ringan jika dibandingkan dengan water bladder, botol lipat, atau tumbler, akan tetapi botol AMDK ini akan jadi sampah tiap kali selesai di pakai, proses daur ulangnya pun juga membutuhkan air yang banyak.

Sampah yang paling banyak ditemukan di gunung salah satunya botol AMDK ini, memang barang yang remeh tapi mampu menjadi dampak buruk bagi lingkungan.

Hal ini tentu mampu di siasati dengan membawa tempat minum sendiri karena botol AMDK berbahan plastik tidak di sarankan untuk dipakai berkali- kali apalagi jika di isi dengan air panas.

Di beberapa toko outdoor atau situs jual beli online ada yang menjual item ini, mulai dari water bladder, tumbler atau soft botol. Perlengkapan seperti ini bisa di pakai berkali- kali dengan perawatan dan pemakaian yang benar.


Foto : Water Bladder.


Foto ki- ka : Perbandingan Botol Lipat dengan plastik.


Foto : Tumbler sekaligus water filter yang saya pakai ketika di gunung yang ada sumber airnya.


4. Food Container

Untuk teman- teman yang membawa makanan kaleng, alangkah baiknya juga di pindahkan ke food kontainer sehingga mampu mengurangi limbah kaleng di atas gunung.

Food container yang memiliki lock system, akan mengamankan makanan agar tidak tumpah saat di packing di dalam tas.




Foto : Food kontainer yang ada lock systemnya.

5. TISU
   
Penggunaan tisu basah bisa jadi masalah bagi lingkungan karena tisu basah sendiri tidak mampu diuraikan, saya asih saya jumpai juga pendaki dengan santainya menggunakan tisu basah untuk buang air besar di gunung.

Untuk buang air besar, saya baru belajar mengurangi penggunaan tisu yang kering dan sama sekali tidak menggunakan tisu yang basah.

Saya selalu mengandalkan air untuk cebok saat selesai buang air besar. Setelah selesai saya mengeringkan pantat dengan potongan kanebo yang saya bawa lalu saya menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangan.

Untuk membersihkan peralatan masak dengan noda minyak serta bau makanan yang menempel di cooking set bisa menggunakan sabun cuci, sponge dan kanebo sebagai alat pengering peralatan masak.

Hal ini sangat bisa meminimalisir menggunakan tisu.


Foto : Salah satu peralatan pembersih cooking set.
Sumber : https://m.facebook.com/groups/1440458456241542?view=permalink&id=2034439323510116

   
Demikian beberapa langkah kecil yang saya lakukan sebagai pendaki untuk mengurangi limbah ataupun sampah saat mendaki gunung.

Salam lestari bukan hanya sekedar salam tanpa tindakan, salam lestari adalah niat, tekat dan aksi kita untuk melestarikan.

Terima kasih telah membaca dan jangan lupa komentarnya untuk masukan tulisan di blog gratis saya.


S A L A M   L E S T A R I . . .


 

Rabu, 22 Mei 2019

Pemahaman Tas Ultralight

Seiring berkembangnya peminat style UH di Indonesia, permintaan tas yang bertema ultralight mulai meningkat, permintaan pasar yang sedang meningkat  ini pun sempat dilirik oleh maker- maker lokal untuk memenuhi permintaan yang mulai meningkat.

Tas merupakan big three yang harus diperhatikan dalam Ultralight Backpacking/ Hiking karena beratnya lebih mendominasi di antara gear outdoor lainnya.

Banyak pertanyaan dari teman- teman yang baru atau setengah masuk ke konsep UL muncul tentang ; "tas lokal merk A dengan B itu bahan bagus mana dan kuat mana?" "Kuat mengangkat berapa puluh kg ya tasnya?" dan masih banyak lagi pertanyaan itu.

STOP pertanyaan seperti di atas!

Tas UL itu berbeda dengan desain tas Konvensional yang diperuntukan kelas berat, jadi mau disiksa pakai beban yang overload pun, tas konvensional masih cukup bisa untuk menanggung derita (berat).

Perbedaan Tas Konvensional dengan Tas Ultralight :

1. Tas Konvensional
Foto : Tas Consina 
Memiliki Spesifikasi :

*) Berat : 1.8kg
*) Back system dan strap shoulder busa tebal yang di tujukan untuk kenyamanan saat membawa beban berat.
*) Terdapat frame alumunium.
*) Bahan/ material lebih tebal.

2. Tas Ultralight


Foto : Tas UL Lokal Prau.

Dengan spesifikasi :

*) Tanpa Frame.
*) Berat hanya 375gr.
*) Backsystem tidak ada busa. Busa di hipbelt (pinggang ) dan di shoulder strap hanya busa tipis ( satu hingga satu setengah cm).
*) Bahan/ material lebih tipis karena ditujukan untuk mengejar bobot yang ringan.

Untuk maker ( produsen) tas lokal mereka pun berlomba- lomba menggunakan bahan yang baik yang di sesuaikan dengan kebutuhan dan bahan yang ada di Indonesia. Dari kebutuhan, bahan dan hingga komponen materialpun sangat berbeda jika di bandingkan dengan tas ultralight dari luar negeri.

Jadi ketika mau menerapkan konsep UL memang harus yakin dan siap dengan peralatan yang lebih ringan dan pastinya multi fungsi serta tidak melebihi beban agar tidak memperpendek usia tas.


Dan sekian tulisan dari saya semoga bermanfaat untuk kawan- kawan yang akan memilih tas ultralight.

S A L A M E N T E N G . .