Sabtu, 22 Juni 2019

Pemilihan Sandal di Gunung (Camp Area )

Untuk dunia persandalan gunung di kalangan pendaki sekarang masih menjadi topik menarik, ada yang pro dan ada yang kontra, bagi saya pribadi sangat tidak menyarankan bahkan tidak setuju saat berkegiatan hiking sandal lah yang di pilih sebagai alternatif alas kaki.



Kali ini saya hanya membahas pemilihan sandal yang menurut saya (penilaian subyektif  ) cocok digunakan untuk di sekitaran area camp (tidak digunakan untuk mendaki ), karena saya menganut stlye ultralight saat pendakian, bobot ringan tidak serta- merta mempengaruhi saya dalam memilih sandal hlo?

SANDAL KARET

Bagi saya sandal yang berbahan dasar karet inilah yang cocok sebagai alas kaki saat di gunakan di camp area di karenakan bahan ini anti selip dan tidak licin, jadi sangat nyaman pada saat di gunakan di camp area saat sedang musim hujan.

Di samping itu sandal karet jenis tersedia dalam berbagai ukuran, dan kebetulan ukuran kaki saya itu 29 cm, jadi untuk pemilihan jenis sandal inilah yang cocok dengan ukuran kaki saya yang panjang dan agak lebar


Foto : Berat sandal berbahan karet hanya sebelah kanan saja.


SANDAL BUSA

Untuk kawan- kawan yang punya kaki mungil dengan ukuran 25 cm bawah bisa menggunakan jenis sandal yang berbahan busa, disamping bobotnya lebih ringan daripada sandal yang berbahan karet bahan busa seperti gambar di bawah ini untuk harga di daerah saya jauh lebih murah dengan kisaran harga Rp. 7000an.

Nah untuk licin atau tidaknya saya sendiri belum pernah mencoba saat musim hujan, saya menggunakan bahan busa ini hanya untuk di sekitaran camp area saja. Kebetulan juga di salah satu gunung yang tidak ada sumber airnya jadi belum bisa merekomendasikan untuk saya pilih.

Mungkin teman- teman sudah menggunakan pas musim penghujan dan untuk ambil air di sumber bisa komen saya di kolom komentar.


Foto : Sandal bahan busa.

SANDAL HOTEL

Untuk sandal hotel saya sangat tidak nyaman menggunkannya karena bahan terlalu tipis sehingga kalau saya menginjak batu cukup membuat meringis.


Foto : Sandal Hotel.

Saya pakai sandal hotel kemaren di Argopuro untuk mengambil air di beberapa sumber dan alhasil sama dengan bunuh diri! Licinnya tidak bisa di tolerir dan bisa membuat bahaya bagi diri sendiri.

Memang sandal hotel sangat ringan tapi tidak nyaman.

Jadi menurut saya mana yang lebih baik dan cocok dipilih sebagai sandal yang di pakai di camp area? 

Semua balik lagi ke pribadi masing- masing, baik dari postur tubuh, berat badan, hingga bentuk kaki.

Untuk saya pribadi lebih condong sandal yang berbahan karet, di samping anti selip dan gak licin, ketersediaan ukuran sandal juga mampu mempengaruhi saya untuk menentukan pemilihan.


S A L A M  L E S T A R I . . .

Rabu, 22 Mei 2019

Pemahaman Tas Ultralight

Seiring berkembangnya peminat style UH di Indonesia, permintaan tas yang bertema ultralight mulai meningkat, permintaan pasar yang sedang meningkat  ini pun sempat dilirik oleh maker- maker lokal untuk memenuhi permintaan yang mulai meningkat.

Tas merupakan big three yang harus diperhatikan dalam Ultralight Backpacking/ Hiking karena beratnya lebih mendominasi di antara gear outdoor lainnya.

Banyak pertanyaan dari teman- teman yang baru atau setengah masuk ke konsep UL muncul tentang ; "tas lokal merk A dengan B itu bahan bagus mana dan kuat mana?" "Kuat mengangkat berapa puluh kg ya tasnya?" dan masih banyak lagi pertanyaan itu.

STOP pertanyaan seperti di atas!

Tas UL itu berbeda dengan desain tas Konvensional yang diperuntukan kelas berat, jadi mau disiksa pakai beban yang overload pun, tas konvensional masih cukup bisa untuk menanggung derita (berat).

Perbedaan Tas Konvensional dengan Tas Ultralight :

1. Tas Konvensional
Foto : Tas Consina 
Memiliki Spesifikasi :

*) Berat : 1.8kg
*) Back system dan strap shoulder busa tebal yang di tujukan untuk kenyamanan saat membawa beban berat.
*) Terdapat frame alumunium.
*) Bahan/ material lebih tebal.

2. Tas Ultralight


Foto : Tas UL Lokal Prau.

Dengan spesifikasi :

*) Tanpa Frame.
*) Berat hanya 375gr.
*) Backsystem tidak ada busa. Busa di hipbelt (pinggang ) dan di shoulder strap hanya busa tipis ( satu hingga satu setengah cm).
*) Bahan/ material lebih tipis karena ditujukan untuk mengejar bobot yang ringan.

Untuk maker ( produsen) tas lokal mereka pun berlomba- lomba menggunakan bahan yang baik yang di sesuaikan dengan kebutuhan dan bahan yang ada di Indonesia. Dari kebutuhan, bahan dan hingga komponen materialpun sangat berbeda jika di bandingkan dengan tas ultralight dari luar negeri.

Jadi ketika mau menerapkan konsep UL memang harus yakin dan siap dengan peralatan yang lebih ringan dan pastinya multi fungsi serta tidak melebihi beban agar tidak memperpendek usia tas.


Dan sekian tulisan dari saya semoga bermanfaat untuk kawan- kawan yang akan memilih tas ultralight.

S A L A M E N T E N G . .

Senin, 22 April 2019

Pemilihan Shelter Untuk Petualang

Sebagai pendaki ataupun backpacker dalam pemilihan shelter acapkali membingungkan kita sebagai pelaku penggiat alam, baik dari segi brand atau merk, harga, bahan atau material tenda dan masih banyak yang lainnya.

Kita pribadi pun tentu punya selera yang berbeda- beda hingga budget keuangan yang tidak sama dalam pemilihan shelter.

Sebelum memilih sheter mari kita perhatikan beberapa hal di bawah ini :


1). Iklim

Kenali dahulu tentang iklim yang ada di negara kamu. Iklim antar benua/ negara memang berbeda. Tenda yang di buat untuk mangsa pasar 3 musim berbeda dengan pasar 4 musim jadi iklim mempengaruhinya.



Foto : Tenda yang digunakan untuk tiga musim.

2). Material & Bahan

Bahan di sini meliputi bahan inner tenda, bahan outer tenda, bahan seal tenda, jenis material frame yang di gunakan untuk mendirikan tenda tersebut.

Bahan & Material juga akan mempengaruhi berat tenda kamu hlo.

3). Fungsi



Cari tau fungsi tenda yang kamu pilih itu tujuannya untuk apa? Jika tenda kamu pilih itu tujuannya untuk kemah ceria ya beli tenda dengan fungsi untuk kemah ceria, bila tujuannya untuk di Annapurna Base Camp ya pilih tenda yang fungsinya untuk di sana.

Mengingat Indonesia memiliki curah hujan tinggi dan angin yang lumayan kencang maka fungsi pemilihan juga menjadi perhatian khusus, terutama pada inner dan outer. 

Carilah inner yang memiliki kontruksi wall yang tinggi bila tidak ada bisa mencari alternatif inner dengan half mesh, hindari memilih inner yang full mesh di karenakan riskan akan air rembes.

Terkadang saya masih melihat beberapa postingan di salah satu media sosial ( medsos) tenda yang di hajar hujan deran dan curah hujan dengan intensitas tinggi sudah seperti kolam. 





Foto : Tenda Half Moon 2



4). Ukuran

Ukuran dimensi tenda yang harus kamu sesuaikan dengan orang serta kebiasaan jumlah barang yang di bawa.

Semakin kamu memerlukan ruang yang luas, maka ukuran tenda yang kamu perlukan akan semakin besar.

5). Bentuk

Memilih tenda dengan bentuk yang aerodinamis akan mengalirkan angin agar melewati tenda sehingga tenda aman dari terpaan angin.

Memilih bentuk inner half mesh, di tujukan agar tenda mampu mencegah tembias akibat hujan dan angin.

TENDA DOME

Pengertian Tenda Dome yaitu ; tempat untuk berlindung yang terdiri dari beberapa lembar kain yang menutupi dan melekat pada kerangka atau frame.

Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Tenda.




Foto : Tenda Dome

Apa Kelebihan dan Kekurangan Tenda Dome?

1). Bisa di dirikan di semua tempat baik tempat datar atau miring.

Untuk kekurangannya yaitu;

1). Berat. Jika dibandingkan dengan tarp tent tentu selisih beratnya masih di dominasi oleh tenda yang memakai kerangka.

2) Kurang eifisien dalam packing maupun dalam set up. 


MERK TENDA DENGAN HARGA TERJANGKAU & BERKUALITAS.

1. Kompas (Kapasitas 2 orang).


2. Merapi Mountain. ( Milky Way, Fire Bird, Half Moon, Moon Light kapasitas 1 person).

3. Nature Hike ( Cloud Up 20D, ada yang 1 person dan 2 person).

4. Husky 2 Person

SHELTER TARP TENT

Tarp tent yaitu ; tempat untuk berlindung yang berupa lembaran kain. Lembaran kain yang di pakai biasanya berjenis ; nilon/ sil nilon yang memiliki ketahanan air yang cukup tinggi.

Cara mendirikannya dengan bantuan stake (pasak), trekingpole ( bisa juga dengan kayu atau dua pohon yang saling berseberangan) serta tali. 

Source https://en.wikipedia.org/wiki/Tarp_tent.



Apa Kelebihan dan Kekurangan Tarp Tent?

Saya sedikit sharing kelebihan tarp tent menurut penilaian subyektif saya yaitu;

1). Ringan karena saya pelaku hiking dengan aliran ultralight tentu ringan yang jadi alasan utama.



Foto : Berat tarp tent < 700gr.

2). Efesien packingannya karena packingan sangat kecil, efesien waktu dalam membangun (dalam proses set up).



Foto : Rumus/ Cara mendirikan Tarp Tent jenis Pyramid.

Untuk kekurangannya yaitu;

1). Agak terkendala ( harus putar otak) jika dapat tempat yang tidak memiliki kontur tanah (batuan).

2). Memakan tempat saat mendirikan karena 1 tarp tent itu hampir sama dengan lebar dan luas tenda dome dengan kapasitas 2-3 orang.


Foto : Penampakan Tarp Tent dari samping.

Untuk tarp tent sendiri maker lokalnya sudah banyak yang memproduksi. Diantaranya Kalahari, Rain Forest, Ngapak Desain, dan masih banyak yang lainnya..

Untuk shelter sendiri sangat banyak sekali pilihan dan jenisnya, namun pada artikel yang saya buat adalah hasil pengerucutan pemilihan shelter yang lebih dominan di pilih oleh pemula yaitu tenda dome dan tarp tent.

Kesimpulannya apapun yang kamu pilih baik itu tenda dome atau tarp tent, kuncinya adalah dari pemasangan tenda sudah baik atau belum, pasak tenda juga sudah terpasang dengan baik atau belum serta tali guy line pada tenda.

Demikian guratan ini saya tutup dan apabila ada kekurangan dalam penulisan maupun ke kurangan dalam kelebihan dan kekurangan tenda dome atau tarp tent saya mohon maaf dan saya menerima masukan dari teman- teman.


S A L A M L E S T A R I . . .

Jumat, 22 Maret 2019

Langkah Awal Ultralight Hiking




Style Ultralight Hiking sendiri berasal dari Negara Amerika dimana style ini pertama kali di populerkan oleh Ray Jardine pada tahun 1992.




Foto : Ray Jardine.
Sumber : https://www.google.com/url?sa=i&source=web&cd=&ved=2ahUKEwj2zufBtYXgAhUeTI8KHVjuB2gQjhx6BAgBEAI&url=https%3A%2F%2Falchetron.com%2FRay-Jardine&psig=AOvVaw1EHufW5Um7BwQWZAn21tzR&ust=1548384928153579


Apa itu UL HIKING/ BACKPACKING ?



Suatu style atau cara untuk melakuan kegiatan di alam bebas dengan membawa peralatan (base weight) dan perbekalan (consumable) yang lebih ringan tanpa meninggalkan prosedur keselamatan (safety procedure) selama di alam bebas.





Foto : Penerapan UH untuk pendakian.


Apa itu BW (Base Weight)?

Base weight adalah variabel tetap yang tidak berubah selama pendakian.

Berat keseluruhan gear outdoor atau perlengkapan pendakian di dalam tas utama, saku celana dan tas selempang dengan berat maksimalnya 6 kg. Standar berat bawaan ( Base weight) ini sudah disesuaikan/ ditetapkan dengan pertimbangan gear outdoor di Indonesia.

Cangkupan BW meliputi tas; shelter ( tenda/ tarp, pasak dan kelengkapan lainnya); sleeping system ( alas tidur, sleeping bag, bantal); peralatan masak dan makan ( alat makan, alat masak, dan kompor); peralatan minum ( botol, jerigen, water fiter, cup, dll); pakaian ( baju ganti atasan- bawahan, sandal, jas hujan, jaket tidur atau jaket untuk treking, dompet); P3K; penerangan ( senter beserta batrei cadanganannya); Alat Elektronik ( hp, charger, kamera, power bank).




Foto : Base Weight 6kg.
Kecuali Treking Pole (worn item).


Worn item yaitu :

Item yang di pakai di badan saat hiking dan ini tidak di masukan dalam base weight hlo ya? Contoh p
akaian yang di pakai saat hiking atau bukan baju ganti atau baju tidur.

Apa itu consummables?

Consummables adalah variable tidak tetap atau bisa berubah selama pendakian. Beratnya tidak sama dan bergantung pada durasi atau jangka waktu pendakian.

Untuk tipe konsumsi orang menurut saya di kelompokan menjadi 2 jenis, yaitu tipe konsumsi orang jenis makanan burung atau tipe konsumsi orang jenis makanan kerbau :

Jenis makanan burung ( makanan simple) ini juga akan sangat berpengaruh pada ringannya konsumsi yang kamu bawa.

Misalnya makanan yang cukup di rebus atau makanan berupa camilan yang langsung mengenyangkan (sekali proses memasak dan tidak membutuhkan bahan tambahan ). Contoh : granola snack, muesli, oat, dan lain sebagainya.







Gambar di atas (source unkown) : Granola yang cara makannya di seduh atau dengan susu hangat.





Source unkown : Granola Snack ( tanpa di seduh).

Jenis makanan 
kerbau (makanan yang membutuhkan 2 kali proses pengolahannya) ini juga akan membuat barang bawaanmu di ransel bisa bertambah berat drastis hlo?




Foto : Proses memasak nasi.

Makanan berat ini termasuk makanan yang proses mengolahnya membutuhkan air yang banyak dari mencuci hingga sampai memasak. Contoh nasi. Makanan yang prosesnya di goreng pun termasuk menambah berat tasmu.

Maka kenalilah dirimu sendiri suka jenis makanan burung atau kerbau, meskipun logistik, air minum, dan bahan bakar tidak di ikutkan dalam Base Weight. 


Menentukan makanan demi kenyamanan juga tidak bisa di anggap sembarangan dalam kegiatan hiking.

Jadi kesimpulannya base weight (BW ) untuk pendakian 2- 5 hari bisa SAMA, tapi berat consummables untuk 2 hari TIDAK SAMA dengan 5 hari.


Bagaimana langkah awal saya ketika saya ingin mencoba style Ultralight Hiking?

Silahkan kawan- kawan fokus untuk mengganti 3 (tiga ) gear outdoor " The Big Three" kalian mulai dari tas; shelter; dan sleeping bag karena ketiga itulah yang paling mendominasi beratnya.





Foto : Shelter yang saya gunakan. Perbandingan menggunakan susu kaleng. Berat -+ 760gr.




Foto : Tas UL. Dengan berat 353gr.




Foto : Sleeping Bag Bulu Angsa. Saya pilih karena bulu angsa mengikat panas tubuh dengan sangat baik. Berat -+ 700gr.


Jika the big three ini sudah masuk katagori UL tapi base weight masih di atas 6 kg ya berarti belum bisa di katakan UL karena konsep ini menyeluruh, bukan di lihat dari per gear outdoor saja.

Style UL ini bisakah di terapkan di Indonesia?

Style UL ini sangat mungkin diterapkan di Indonesia karena memiliki 2 (dua ) musim, sementara style Ultralight Hiking di desain khusus untuk 3 (tiga ) musim.





Gambar : Cuaca di Indonesia. Negara ini memiliki 2 iklim yaitu ; kemarau dan penghujan.

Ultralight Hiking itu sebuah keuntungan bagi pendaki, selain mampu mengurangi rasa pegal, sakit di bahu serta pinggang dan di lutut style ini juga sangat cocok untuk kaum perempuan juga yang dimana punya hobi hiking.

Dikutip dari NIOSH ( Institute for Occupational Safety and Health), dimana lembaga federal ini berasal dari Amerika Serikat dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan riset dan memberi rekomendasi bagi pencegahan luka- luka dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan telah meriset bahwa beban berat maksimal yang bisa diterima 90% populasi pria dan wanita pada umumnya, diangka 27kg.

Bagian tubuh yang sanggup menahan beban ini adalah paha 20kg, pinggul 25kg dan pundak 20kg, nah beban seberat itu berlaku catatan untuk beban yang stabil, dimana beban diangkat dengan frekuensi kurang dari 12 menit. Jika beban di angkat lebih dari 12 menit maka beban dikurangi sebesar 80%. Apabila lebih dari itu, maka kemungkinan resiko cidera atau gangguan kesehatan terutama otot dan tulang punggung akan semakin membesar.

Untuk pedakian di Indonesia rata- rata di lakukan selama 3-5 jam, jadi sangat jelas melebihi 12 menit, sehingga beban ideal yang di bawa pendaki adalah 27kg dikurangi 80%, dimana jika di total ketemu berat 5.4kg.

Jadi, apapun gaya mendakimu mau konvensional dengan tas besar dan beban diatas 20kg hingga mau mendaki dengan berat 2 kg dengan tas day pack saja di persilahkan. Saya kembalikan pada kenyamanan setiap individu masing- masing.

Semoga artikel ini bisa membantu untuk kawan- kawan yang mau terjun ke style Ultralight Hiking dan menghapus stigma bahwa Ultralight Hiking itu "TIDAK SAFETY!"


S A L A M  E N T E N G . . .

Selasa, 05 Februari 2019

Sebelah Mata Ultralight Hiking di Indonesia



Awal mula saya mengetahui Ultralight Hiking (UH ) kurang lebih sekitar 3 tahun yang lalu. Saya mulai tertarik dengan salah satu youtuber pelaku Ultralight Hiking AT ( Appalachian Trail) kala itu, berbagai informasi saya kumpulkan baik yang berbentuk video hingga artikel tentang Ultralight Hiking (UH ).

Bahkan di Indonesia pun ternyata topik Ultralight Hiking ini sudah di bahas dari tahun 2012 di forum diskusi yang paling tekenal, yaitu ; Kaskus.



Foto : Darwin On The Trail


Hampir satu tahun lebih, saya di sibukan dengan berbagai macam pekerjaan dan perkuliahan sehingga saya harus istirahat' mendaki kala itu.

Hingga berjalannya waktu, waktu luang mulai menghampiri lagi. Singkat cerita kawan lama saya mengajak untuk mendaki di salah satu gunung di Jawa Tengah. Tanpa pikir panjang saya 'meng-iya' kan ajakan tersebut.

Pada saat mendaki kala itu, saya masih menggunakan kerir kapasitas 60L dengan berat di atas 25 kg karena saya sering di titipi barang oleh teman, berbagi bawaan untuk kebutuhan kelompok.

Saya tentu merasa keberatan kala itu, barang bawaan pribadi teman seharusnya di bawa sendiri, tapi anehnya malah di titipkan dan di sempilkan ke kerir dengan di sertai kalimat "badan gede dan tas lu juga gede, titip jaket satu aja beratnya seberapa sih?".

"jika di jalur pendakian pada diri sendiri saja tidak mampu untuk mulai mandiri atau bertanggung jawab atas peralatan yang di bawa kenapa berani sekali untuk mencoba mendaki?" 

Selang dua hari setelah pulang dari pendakian kala itu, saya mulai memunculkan niat untuk pindah style pendakian, dari yang Konvensional menjadi Ultralight.

Kali ini media sosial Facebook ( FB) yang menjadi jembatan saya untuk mencari komunitas ultralight hiking di Indonesia. Pada tahun 2016/ 2017 saya mulai bergabung dengan komunitas Indonesian Ultralight Backpacking.

Di grup ini juga di sematkan beberapa artikel tentang memulai UH untuk member baru, tentang gear outdoor yang ringan, membahas tentang kesafetyan dalam berkegiatan mendaki dan masih banyak sematan artikel positif yang berbau pendakian di dalam komunitas ini.



Gambar : Logo Grup Indonesian Ultralight Backpacking



Rasa penasaran saya muncul di karenakan style pendakian ultralight yang di asal negaranya yaitu ; Amerika digunakan untuk pendakian jangka panjang yang mampu menghabiskan waktu berbulan- bulan dengan berat base weight cuma 2,4 kg- 4 kg, kemudian di negara asalnya, para pendaki di sediakan pos untuk mengganti gear yang rusak hingga mengambil makanan.

Kemudian di negara Indonesia, style Ultralight Hiking (UH ) mulai di adopsi atau di serap oleh pelaku UH di negara ini sehingga mengalami perubahan drastis.

Perubahan UH di Indonesia sangat drastis kala itu, dari penetapan BASE WEIGHT (BW) seberat 8 kg hingga tidak tersedianya pos untuk mengisi ulang makanan atau mengganti gear yang rusak, hingga Ultralight Hiking di adopsi untuk mendaki dengan medan gunung tipe kerucut.

Tentu hal ini akan menjadi sebuah pertentangan oleh 'oknum' yang belum paham akan konteks style UH. Mereka sering memandang sebelah mata tentang style Ultralight Hiking ini.

Yang selalu menjadi sorotan adalah  dari segi keamanan/ kesafetyan bagi para pelaku hiking. Masih ada pula mereka menganggap konteks hiking itu masih disamakan dengan climbing, padahal konteks style mendaki (hiking) itu berbeda dengan style memanjat (climbing).

Bahkan hingga saat ini masih saya temui segelintir orang yang menyimpulkan bahwa konteks style UH dianggap bisa diterapkan untuk konteks membuka jalur pendakian. Padahal membuka jalur dan mendaki hal ini sudah berbeda konteks.

Sampai di sini paham?

Jadi kesimpulannya ; Ultralight Hiking itu hanyalah style mendaki sesuai dengan jalur pendakian dengan menggunakan peralatan yang ringan akibat  perkembangan jaman dan kecanggihan teknologi tanpa mengurangi keselamatan dalam berkegiatan di alam.





 S A L A M  E N T E N G . . .



Selasa, 22 Januari 2019

Cooking Set Pendaki



Saat mendaki gunung peralatan masak merupakan salah satu peralatan yang wajib di bawa karena perannya sangat penting bagi pendaki guna mencukupi kebutuhan asupan gizi selama melakukan pendakian.

Tentu bagi penggiat alam seperti saya sangat mempertimbangkan pemilihan peralatan masak, baik dari segi fungsi hingga berat. Tiap kali berkegiatan mendaki baik secara solo maupun dengan keluarga, saya memiliki set up cooking set yang berbeda.

Saya mencoba berbagi ke kawan semua tentang cooking set yang saya pilih saat saya solo hiking, berikut settingannya :


Solo Hiking



Foto : Kompor dari bekas kaleng makanan kucing.


Saya menggunakan kompor model seperti ini di karenakan ringan yaitu berat kompornya 6gr.

Tentu model kompor seperti ini jika tidak di beri wind shield (penahan angin) akan mengganggu proses pembakaran sehingga waktu yang di perlukan untuk memasak jauh lebih lama.


Foto : Wind Shield (Penahan Angin).


Berikutnya cara memasangkan atau menandemkan kompor model cat stove dengan windshieldnya seperti di bawah ini :



Foto : Cara menandemkan kompor cat stove dengan windshield.
https://www.instagram.com/p/Bsm-PJOh5Gt/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=8ns1t8dqr7vo




Foto : Cat stove dengan nesting DS 101.

Untuk nestingnya saya pribadi lebih suka menggunakan bahan yang terbuat dari titanium karena mampu mengahantarkan panas lebih cepat.


Foto : Mug Titanium 450ml.

Meskipun sebenarnya ini digunakan untuk mug, saya lebih suka bila dijadikan sebagai cooking set, mug kapasitas 450ml ini cukup untuk memasak mie instan goreng 1 bungkus, spageti untuk porsi makan 1 orang, dan saya gunakan untuk membuat minuman hangat juga mugnya.

Berat mugnya sendiri di angka 97gr beserta tutupnya. Jika tanpa tutup di angka 77gr.


Foto : Mug tanpa tutup (lid).

Nah khusus settingan ini saya untuk solo hiking/ grup dengan durasi pendek dengan waktu 2 hari 1 malam atau 3 hari 2 malam.

Hiking Couple or Long Hiking

Jika untuk hiking couple sama istri atau untuk long hiking, setingan cooking set yang saya pakai beda lagi karena saya pasti akan membutuhkan untuk memasak nasi dan menggoreng.

Saya menggunakan cooking set tipe DS 101, saya pilih cooking set ini karena tidak memakan tempat dan beberapa perintilan berupa adaptor kaki 3 untuk gas hicook, kompor brs 3000T, korek, sendok lipat titanium masuk ke cooking set ini.



Foto : Cooking set ditimbang dengan berat bersih.


Cooking set ini memiliki volume yang pas untuk menyimpan tabung canister 230gr, kompor brs 3000 T dan korek gas.

Berikut ukuran volume cooking set DS 101 ini ;


Foto : Ukuran volume cooking set DS 101.


Berhubung tabung gas canister yang saya punya di beli sama temen dan selang beberapa bulan, tabung canister yang ada di Indonesia hargana berubah jadi mahal.

Akhirnya saya putuskan untuk pakai adapter kaki tiga. adapter ini lebih awet jika dibandingkan dengan adapter yang memakai selang.




Foto : Penampakan adapter kaki 3.

Dan itu tadi setingan cooking set yang saya gunakan untuk solo hiking, hiking coupe dan long hiking. Untuk ukuran kenyamanan tegantung pada diri sendiri.

Berkegiatan hiking pun semakin menyenangkan dan ringan tanpa mengurangi unsur safety.

Jaga diri kalian saat berkegiatan di alam, lestarikan alam serta tidak melakuan vandalisme atau kegiatan yang merugikan orang lain dan alam. 





S A L A M  L E S T A R I . . .